Home » Pasar Uang » Analisa Forex » Yaman Dukung Minyak, Dolar Memotivasi Emas

Yaman Dukung Minyak, Dolar Memotivasi Emas

Harga minyak mentah kembali menanjak pagi ini, melanjutkan kenaikan semalam terkait dengan pertempuran yang semakin memanas di Yaman dan data pasokan Amerika Serikat. The American Petroleum Institute semalam memaparkan bahwa stok minyak mentah Amerika Serikat pekan lalu naik 2,6 juta barel, sedangkan persediaan distilat menurun 566.000 barel dan persediaan bensin turun 4,1 juta barel.

Pedagang energi menunggu rilis laporan mingguan stok minyak mentah dari EIA nanti malam. Pekan lalu, minyak mentah berjangka turun tajam setelah tingkat persediaan meningkat sebesar 10.950.000 barel untuk pekan yang berakhir 3 April, stok mingguan tertinggi dalam lebih dari 13 tahun. Total stok minyak mentah Amerika Serikat menurut data terakhir adalah 482,4 juta barel, level tertinggi dalam lebih dari 80 tahun.

Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah WTI untuk pengiriman Mei naik 0,66% menjadi $53,53 per barel setelah membukukan kenaikan mingguan keempat berturut-turut. Sebelumnya  minyak mentah berjangka jatuh di bawah $52,40 per barel karena dolar melemah menyusul data penjualan ritel Amerika Serikat yang menurun. Kemudian minyak mentah berjangka berpindah ke wilayah positif di tengah meningkatnya konflik bersenjata di Yaman. Di Intercontinental Exchange (ICE), minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik di atas $60 per barel dan berakhir di $59,92.

Minyak mentah berjangka cenderung naik berkaitan dengan ekskalasi pertempuran antara pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran dan pasukan koalisi Arab Sunni yang dipimpin Arab Saudi. Pesawat-pesawat tempur Saudi menghancurkan sebuah akademi militer dan sebuah stadion sepak bola yang terletak di provinsi Dhamar di sebelah barat Yaman. Lokasi-lokasi tersebut yang digunakan oleh pemberontak Houthi untuk menyimpan senjata. Yaman memiliki selat Bab el-Mandeb yang strategis, salah satu chokepoints terbesar bagi jalur distribusi minyak mentah. Saat selat ini tertutup karena konflik militer, arus keluar ekspor minyak mentah ke Teluk Aden akan terhambat. Pedagang minyak mentah sensitif terhadap berita geopolitik yang melibatkan Arab Saudi, produsen minyak terbesar di dunia.

Sementara itu Administrasi Informasi Energi (EIA) merilis prospek energi tahunan untuk 2015 dengan perkiraan brent akan berada di level rata-rata $56 per barel untuk sisa tahun ini, sebelum naik ke $76 per barel pada 2018. Pada tahun 2020, EIA memperkirakan bahwa produksi akan meningkat menjadi 10,6 juta barel per hari, naik dari tingkat saat ini sekitar 9 juta.

Di sesi yang sama emas berjangka turun sedikit karena investor logam kuning ini mengunci keuntungan, meskipun dolar melemah oleh serangkaian data yang negatif. Pada divisi Comex New York Mercantile Exchange, harga emas untuk pengiriman Juni merosot 7.10 atau 0.59%, ditutup di $1.192,20 per ounce. Harga emas sempat merosot ke $1.183,80  tapi kemudian meningkat terus sepanjang hari. Sejumlah data ekonomi yang memburuk bisa menyulut spekulasi akan terjadinya langkah penundaan The Fed dalam menaikkan suku bunga. 

Hari ini data-data dari Tiongkok sangat potensial untuk mempengaruhi pergerakan harga emas. Tiongkok adalah produsen emas terbesar dan kondumen terbesar kedua di dunia. Dalam kaitannya dengan dolar, para pelaku perdagangan juga akan terus memonitor konferensi pers ECB nanti malam. (Tata Suharta – Financeroll)

About Abdul Hilmawan

Abdul Hilmawan
Abdul Hilmawan merupakan penulis yang berpengalaman di bidang investasi dan saham, khususnya saham perbankan yang terkait dengan produk - produk sekuritas, danareksa dan produk lainnya

Check Also

BI Kembali Buka Transaksi Swap Lindung Nilai Mata Uang Offshore

Sebelumnya pada tanggal 12 Juli 2017 lalu, PT Bank Indonesia (Persero) Tbk (BI) telah membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *